Tampilkan postingan dengan label P-U-I-S-I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label P-U-I-S-I. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

TeRbAnG mEngANgKaSa ....

pagi....
yang ditemani dingin
dan berselimut semilir angin...

mari bergabung dengan sepoi angin
walau agak dingin
tetapi sungguh membuat ringan

membawa jiwa perlahan terbang
agak menjauh dari pusat daya tarik bumi
melepas ketertarikan diri yang terlalu
pada dunia semu

biarkan kakimu menapaki tanah ini
menikmati daya tarik dunia seperlunya
seperlunya saja ....  kawan
karena memang tubuhmu berasal dari tanah ini

tetapi jangan kau kerangkeng jiwamu
yang ingin mengangkasa menuju asalnya
mereguk kenikmatan jalan pengabdian
menghampiri Rabb-Nya
mempersembahkan pujian dan sanjungan
disanalah jiwamu mengalami kebahagiaan
yang tak pernah dimengerti tubuhmu

hanya tubuh yang dibanting banting
dijalan perjuangan para anbiya
dipaksa berjalan panjang
menapak tilasi sejarah para Rasul
hanya tubuh yang seperti itulah
yang akan menikmati rekreasi jiwa
yang sedang mengangkasa
sambil memuja memuji Rabb-Nya

sungguh inilah jalan kenikmatan
yang dirasakan para kekasih Tuhan
Nabiyyin, shiddiqin, syuhada dan shalihin


<< MIT VOICE>>
READ MORE -

Minggu, 23 Januari 2011

MENARI DALAM BUAIAN IRAMA TAQDIR oleh -> M Iman Taufiqurrahman

Rabb!... 
kucoba selalu merambahi Jalan keyakinanku… 
untuk bercengkrama dengan wibawa taqdirMu… 
ku sedang belajar menari dalam alunan irama taqdirMu… 
walau kadang isi kepalaku
tak sampai mampu memecahkan
misteri dibalik realitas yang Kau
hadirkan…

Rabb… 
sungguh ku ingin mengalir seperti air… 
yang tanpa beban menjalani
segala taqdir pemberianMU… 
terus mengalir menuju muara samudra
RidhaMU

Rabb… 
hambaMu sedang belajar
Bagaimana menikmati perihnya Kenyataan… 
agar dapat berterima kasih
kepadaMu sepanjang hayatku

tolong dan bantulah hamba Ya Rabb

sudut malam dipenghujung perguliran


oLEh: M Iman Taufiqurrahman 
READ MORE - MENARI DALAM BUAIAN IRAMA TAQDIR oleh -> M Iman Taufiqurrahman

Makna SeBuAh TiTipAn ----> WS RENDRA

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
...
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,


kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

<< WS RENDRA >>
READ MORE - Makna SeBuAh TiTipAn ----> WS RENDRA

Sabtu, 22 Januari 2011

Harapan Kepada Pemuda ... oleh Sir Muhammad Iqbal

( Harapan Kepada Pemuda )
Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup
membangunkan zaman yang baru
memperbaru kekuatan iman
menjalankan pelita hidayat
menyebarkan ajaran khatamul-anbiya’
menancapkan di tengah medan pokok ajaran Ibrahim
Api ini akan hidup kembali dan membakar
jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu
Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu
Cahaya pagi telah terhampar bersih
Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu
Bersedialah dari sekarang
Tegaklah untuk menetapkan engkau ada
Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih tersimpan dalam
kuntum yang akan mekar
Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini
Agar harum-harum narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu
Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad
READ MORE - Harapan Kepada Pemuda ... oleh Sir Muhammad Iqbal